Thursday, 11 May 2023

Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2 CGP Angkatan 7

 

Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2

Disusun Oleh: Indro Sulistyo CGP Angkatan 7 Kab. Sragen Satker SMKN 1 Sragen

 

  • Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut mengabdi?

"Unggul dalam taqwa, berprestasi, terampil, berbudi pekerti luhur dan berwawasan lingkungan"

  • Prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?

Mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar

  • Apakah Pertanyaan Utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?

Bagaimanan cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan dalam untuk belajar?

  • Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan:

    1. B (Buat pertanyaan)

1). Buat Pertanyaan, “Bagaimana cara meningkatkan semangat belajar pesertadidik?”

Guru membicarakan dan mengali informasi dari berbagai sumber serta mebicarakan dengan rekan sejawat maupun kepala sekolah

2). Bagimana mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan?

Membuat pertanyaan pematik kepada siswa tentang kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi kepada peserta didik berupa membuat pertanyaan "Penyemangat Belajar".

b.     A (Ambil Pelajaran)

1). Kelas mana yang sudah berhasil membuat kelas yang nyaman dan menyenangkan?"

Pertanyaan ini terjawab dengan adanya langkah atau tindakan berupa kegiatan observasi ke kelas 2 dan kelas 6 yang sudah berhasil. Pertanyaan kedua yang bisa diambil adalah "Bagaimana mengatur kelas yang nyaman dan menyenangkan?".

2). Kegiatan apa yang dilakukan untuk mendapatkan kelas yang nyaman dan menyenangkan?, Apa yang disukai oleh siswa tentang kelas yang menyenangkan?, dan Apa yang menyenangkan dari kelas sendiri?.

Langkah atau tindakan yang diambil oleh guru berupa kegiatan tanya jawab dengan siswa tentang kriteria kelas yang nyaman dan menyenangkan, dan mengiventarisasi kelas sendiri yang sudah baik dan menyenangkan

    1. G (gali mimpi)

1). Apakah yang dibayangkan tentang kelas yang nyaman dan menyenangkan?

Meminta siswa membayangkan dengan memejamkan mata kelas yang nyaman dan menyenangkan

2). Kelas seperti apa yang di inginkan dan dimimpikan?

Mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat di depan/diskusi kelompok untuk mengambarkan kelas yang nyaman dan menyenangkan

3). Kelas yang nyaman dan menyenangkan seperti apa yang dapat meningkatkan semangat belajar?

Pesertadidik mempresentasikan kelas impian yang nyaman dan menyenangkan yang dapat meningkatkan semangat belajar dan guru mencatat seperti apa kelas nyaman dan menyenangkan yang di inginkan

    1. J (Jabarkan Rencana)

1). Apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan sesuai impian dan berapa lama target waktu untuk mencapainya?

Berdiskusi serta berkolaborasi dalam mengiventarisasi hasil pemikiran /usulan dan membuat catatan khusus target yang ingin dicapai tentang kelas yang nyaman dan mnyenangkan sesuai impian peserta didik.

2). Apa yang dibutuhkan dan dilakukan untuk mewujudkan kelas impian sesuai keinginan murid?

Guru membagi murid dalam beberapa kelompok dan memberikan tugas untuk masing -- masing kelompok serta berkolaborasi dengan rekan guru dan peserta didik dalam mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan

    1. A (Atur eksekusi)

1). Kapan waktu untuk memulai dan siapa yang dilibatkan dalam penyusunan kelas yang nyaman dan menyenangkan?

Guru bertanya pada murid kapan baiknya dimulai setelah ada beberapa siswa yang usul akhirnya disepakati bahwa kegiatan dimulai besok. Setipa siswa terlibat dalam kegiatan ini dengan membentuk kelompok kerja dengan tugas yang telah ditetapkan, pembagian tugas kelompok terdiri dari membersihkan kelas,membuat hiasan dinding,menyusun bangku dan buku juga memasang hiasan pada dinding.

2). Siapa yang mengarahkan/memantau serta mendampingi dalam pelaksanaan dan memecahkan kesulitan dalam pelaksanaan mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan?

Guru melakukan pendampingan serta membantu penyelesain apabila ditemui kendala yang ditemui dan memberikan apresiasi kepada siswa setelah membuat ruang kelas menjadi nyaman dan menyenangkan.

  • Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?

a.      Guru menerapkan pendekatan berbasis aset karena guru fokus memanfaatkan aset dan kekuatan yang dimiliki oleh kelas

b.     Guru membayangkan kesusksesan yang akan diraih di masa depan

c.      Guru mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang ada dan mampu membuat rencana berdasarkan visi dan kekuatan yang ada

d.     Guru mampu mewujudkan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan seperti yang di impikan/di inginkan oleh guru dan peserta didik

  • Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalan tayangan video? lalu bagaimana pemanfataannya?

Modal utama yang dimanfaatkan pada tayangan video tersebut terdiri dari; (1) modal manusia, (2) modal sosial, (3) modal fisik, (4) modal lingkungan/alam dan (5) modal finansial. Modal manusia terlihat dengan adanya guru yang berpihak pada murid dengan ditunjang kolaborasi dengan murid yang mandiri dan kreatif dalam mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan. Modal sosial terlihat pada kegiatan hubungan sosial dengan rekan sejawat sehingga mampu membuat program yang bagus. Modal fisik terlihat dengan adanya ruang kelas yang tersedia untuk diubah menjadi kelas yang nyaman dan menyenangkan. Modal lingkungan/alam terlihat pada kegiatan menghias kelas yang menggunakan beberapa bahan dari alam. Sedangkan modal finansial terlihat dari dukungan guru, sekolah, dan orang tua dalam menyediakan peralatan dan bahan yang digunakan untuk menghias kelas sehingga terbentuk kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk kegiatan pembelajaran. 

Sunday, 7 May 2023

JURNAL DWIMINGGUAN modul 1.2

 

Setelah mempelajari modul 1.1 dan di lanjutkan dengan modul 1. 2 ternyata banyak ilmu yang saya dapatkan dan saya tuangkan dalam jurnal dwimingguan sebagai berikut :

Dalam membuat jurnal dwi mingguan ini saya masih mengunakan model Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini.

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak.

Materi modul 1.2 Tentang nilai-nilai dan peran guru pengerak yang sesuai dengan filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Diawali dengan trapesium usia CGP membuat trapesium usia yang mengambarkan momen-momen apa saja yang telah di lalui dari kecil hingga saat ini, mana yang positif dan mana yang negative. Hal ini mengajarkan agar seorang guru mampu memberikan moment-moment yang positif terhadap murid.

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?

Ide, materi serta pendapat dari narasumber sangat jauh berbeda dengan apa yang saya praktikan selama ini. Sebagai seorang guru saya masih sering menjudge /memvonis anak dengan kalimat-kalimat yang negatip Ketika murid tidak mendapatkan hasil belajar yang sesuai harapan atau Ketika anak itu melakukan kesalahan.

3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

Konsep Nilai dan Peran guru pengerak yang harus dimiliki dan harus dilakukan oleh seorang guru pengerak antara lain

Nilai Guru Pengerak :

a.      Mandiri

b.     Reflektif

c.      Kolaboratif

d.     Inovatif

e.      Berpihak pada murid

Peran Guru Pengerak :

a.      Menjadi pemimpin Pembelajaran

b.     Mengerakkan komunitas praktisi

c.      Menjadi coach bagi guru lain

d.     Mendorong kolaborasi antara guru

e.      Mewujudkan kepemimpinan murid

Nilai dan Peran guru pengerak diatas yang harus mandarah daging bagi seorang guru pengerak, semua guru harus mempunyai prinsip belajar sepanjang hayat hal ini akan membuat seorang guru akan terus mengembangkan dirinya agar dapat mewujudkan nilai dan perannya sebagai seorang guru pengerak

 

4) Change: Apa perubahan dalam diri saya yang ingin saya lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Setelah mempelajari materi ini hal yang pertama adalah merubah pola pikir saya bahwa seorang guru harus memiliki nilai nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, Inovatif dan berpihak pada murid. Dalam hal kemandirian tentu saja saya aktif untuk mengembangkan kompetensi saya dengan mengikuti berbagai diklat secara mandiri tanpa menunggu perintah atasan. Reflektif harus selalu saya lakukan agar dapat mengetahu hal-hal positif atau negative yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Kolaboratif tentu saja seorang guru tidak bisa bekerja secara individu harus mamapu berkolaborasi dengan guru lain serta pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kualitas Pendidikan. Inovatif perkembangan tehknologi tidak bisa kita hindari namun harus kita ikuti, karenaa itu inovasi perlu di laksanakan oleh seorang guru pengerak dalam hal ini saya juga menerapkan inovasi dalam hal media pembelajaran yang saya gunakan. Berpihak pada murid, hal yang sangat mendasar harus dilakukan oleh seorang guru yaitu segala hal yang dilakukan guru harus untuk kepentingan murid

Semoga bermanfaat

salam guru penggerak : Tergerak, Bergerak, Mengerakkan


Tuesday, 28 March 2023

Koneksi Antarmateri - Modul 2.3 Coaching

Di tulis/diterbitkan: INDRO SULISTYO, S. Pd, M. Si

CGP Angkatan 7 Kab Sragen Provinsi Jawa tengah

Sebagai seorang Calon Guru Pengerak di dalam pelaksanaan diklat melalulu LMS hal yang tidak boleh di lewatkan adalah melakukan Koneksi Antar Materi yang telah di selesaikan dalam LMS. Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademis. Coaching lebih mengarah pada kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Proses coaching memberikan ruang bagi coach untuk menggali semua potensi yang ada pada diri coachee sehingga coachee dapat berkembang dari berpikir pada saat ini ke arah pemikiran masa depan hal ini senada dengan pendapat Gratt.1999. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Dalam tulisan kali ini penulis akan merefleksikan beberapa hal yang terkait dengan: pengalaman belajar penulis, Analisis untuk Implementasi dalam konteks CGP dan membuat konektifitas atau keterhubungan materi yang didapat dengan pengalaman penulis.

Pengalaman belajar

Materi di modul 3.2 tentang coaching sangat erat hubunganya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi. Setelah menyelesaikan materi pada modul 2.3, materi Coaching untuk Supervisi Akademis merupakan materi yang sangat luar biasa membuka wawasan saya yang selama ini menganggap supervisi hanyalah rutinitas kegiatan yang jauh kemanfaatannya, namun setelah mempelajari materi ini saya merasa bahwa coaching dalam supervise akademis merupakan suatu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran maupun dalam memimpin suatu organisasi.

Selama  belajar materi dalam modul 3.2 saya mengalami pergulatan perasaan yang membawa saya harus belajar untuk dapat menerapkan materi di modul 3.2 dalam keseharian saya utamanya dalam proses belajar mengajar maupun dalam lingkungan kerja. Senang, Bahagia, bangga menyelimuti hati saya, senang karena diberikan kesempatan untuk mempelajari materi Coaching, Bahagia karena dapat menularkan pemahaman saya pada pesertadidik maupun teman sejawat. Bangga karena saya termasuk kedalam segelintir orang yang beruntung dalam mengikuti kegiatan Pendidikan CGP Angkatan 7 ini.

Selama proses pembelajaran di LSM hal yang baik menurut saya adalah Ketika menyampaikan ide atau gagasan yang di tanyakan oleh fasil serta Ketika saya dapat menyelesaikan tugas sesuai waktu yang di tentukan. Hal-hal yang mungkin perlu perbaikan untuk diri saya adalah lebih mengintensifkan berinteraksi dengan rekan CGP, serta memotivasi diri pribadi untuk dapat segera menyelesaikan tugas tanpa menunda-nunda karena batas waktunya masaih lama.

Materi di modul 3.2 ini sangat penting dalam meningkatkan kompetensi seorang pendidik yakni paedagogik, kepribadian, professional dan sosial. Materi dalam modul 3.2 diantaranya melatih kita untuk mampu menahan diri, menjadi pendengar yang baik, mampu mengoptimalkan potensi orang lain serta mampu menggali inisiatfi seseorang. Hal ini tentu saja mempengaruhi kematangan diri pribadi seorang pendidik untuk dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya terutama dalam menwujudkan generasi yang cerdas, bernalar kritis dan berkarakter.

Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP

Yang menjadi pertanyaan terbesar saya adalah bagaimana coaching yang sebelumnya diperuntukan untuk guru dalam membantu menyelesaikan permasalahn murid dikelas, menjadi dapat membantu rekan sejawat untuk mencari solusi pemecahan masalah serat dapat di pakai oleh seorang atasan untuk mensupervisi bawahaanya. Setelah saya mengali dalam-dalam materi ini ternyata memang benar kemampuan melakukan coaching mutlak dimiliki oleh seorang pendidik sebagai pengajar, sebagai teman sejawat dan sebagai seorang pimpinan. Coaching yang sesuai dan benar dilakukan maka akan memberikan manfaat yang luar biasa dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan utamanya problematika pedidik di dunia Pendidikan.

Tantangan yang mungkin dating dalam mengimplementasikan coaching ini di tingkat sekolah bisa disebabkan kurangnya pemahaman seorang coachee terhadap Langkah/Tindakan dalam pelaksanaan coaching sehingga hasil kurang maksimal. Dari tingkat daerah yang paling memungkinkan adalah perasaan sikap ego yang malu untuk meminta bantuan orang lain. Semisal jika seseorang yang memilik permasalahan akan enggan mengutarakan permasalahannya pada orang lain karene gensi atau malu dipandang kurang becus/mampu.

Langkah-langkah yang dapat diambil dalam menyelesaikan permasalahan yang kemungkinan di hadapi seperti diatas adalah dengan melakukan pelatihan coaching dan membudayakan perasaan malu bertanya sesat di jalan. Hal ini yang akan mampu meningkatkan keberhasilan pelaksanaan coaching.

Membuat keterhubungan

Belajar dari pengalaman masa lalu penulis yang hanya mengangap supervisi merupakan suatu rutinitas, serta penyelesain masalah terhadap murid yang terkesan penulislah yang harus memutuskan tanpa melibatkan perasaan murid. Di dalam kelas terkesan gurulah sebagai penguasa tunggal yang harus di ikuti oleh murid, setelah mempelajari serangkaian materi sampai dengan materi 3.2 perubahan kedepan adalah merubah paradigma berpikir agar mampu menerapakan spirit merdeka belajar.

Pada awalnya supervisi yang saya anggap hanya sebagai rutinitas akan berubah menjadi kebutuhan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dikelas dengan prinsip Coaching. Pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan problematika kelas akan penulis selesaikan dengan pendekatan coaching yang selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid).

Selama mengikuti kegiatan Pendidikan calon guru pengerak ada beberapa konsep/praktik baik yang sudah saya laksanakan diantaranya penerapan segitiga restitusi, pembelajaran berdiferiensi dan PSE. Walau harus penulis akui dalam penerapan konsep tersebut masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan, namun dengan tekad yang kuat penulis berharap pada suatu saat akan mampu menerapkannya dengan lebih baik.

Untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi selain mengikuti kegiatan PGP penulis juga menyempatkan mengikuti beberapa kegiatan diklat seperti kegiatan merancang pembelajaran berbasis proyek menuju profil pelajar Pancasila dalam satuan Pendidikan. Selain itu masih ada beberapa diklat yang penulis ikuti juga dengan harapan mampu menambah pemahaman penulis dalam memperbaiki kulaitas proses pembelajaran yang berpihak pada murid.

Penulis merupakan salah satu staf mengajar di SMK Negeri 1 Sragen


Saturday, 12 November 2022

CONTOH ATP (ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN ) Pendidikan Pancasila kelas X kurikulum Merdeka 2022

 

ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN

 

Nama                                        : INDRO SULISTYO

SMK                                        : SMKN 1 Sragen

Mata Pelajaran                         : Pendidikan Pancasila

Fase yang diampu                    : E

Elemen yang dipilih                : Pancasila

Deskripsi                                 : Mengkaji Pancasila sebagai dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup bangsa. Mengkaji nilai-nilai Pancasila, proses perumusan Pancasila, implementasi Pancasila dari masa ke masa, serta reaktualisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Capaian Pembelajaran : Peserta didik mampu menganalisis cara pandang para pendiri negara tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara; Peserta didik mampu menganalisis fungsi dan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara, dan identitas nasional; peserta didik mengidentifikasi dan menggunakan produk dalam negeri sekaligus mempromosikan budaya lokal dan nasional.           

 

Tujuan   Pembelajaran              : Peserta didik mampu me emahami makna dan nilai-nilai Pancasila, serta proses perumusannya sebagai dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup, serta menyegarkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari .

 

Alur   Pembelajaran                  :

Materi dari Elemen

Kompetensi yang Dilatihkan

Karakter yang Dikembangkan

Modul

JP

Pancasila

Memahami makna dan nilai-nilai Pancasila, serta proses perumusannya sebagai dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup bangsa, serta mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari;

 

Kerjasama, Gotong Royong

Pancasila.1

2 JP

Refleksi diri tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara MODUL 1.1 CGP 7 2022

By. Indro Sulistyo 

Berbahagialah bapak ibu guru yang lahir di era 80'an, tentu masih hangat di pikiran ketika kita duduk di bangku sekolah dan merasakan betapa keras dan disiplinya pendidikan kala itu yang saat ini menghasilkan generasi yang bisa di bilang tahan banting. Masih teringat dengan jelas ketika kita melakukan kesalah di sekolah dan dihukum oleh guru, untuk mengadu keorang tua saja kita tidak akan berani karena kita tahu konsekuensinya yakni orang tua kita akan menghukum kita lebih berat lagi karena hukuman dari guru berarti kita melakukan kenakalan yang luar biasa. Kita akan belajar mati matian ketika esok hari harus belajar bersama ibu atau bapak X ( Galak) Baik sadar maupun tidak dalam hati kita yang paling dalam tentu merindukan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak menakutkan. 

Zaman berubah diikuti pula perkembangan dalam dunia pendidikan yang sekarang ini saya menjadi salah satu aktornya yakni sebagai seorang guru. Berkaca dari pengalaman saya menjadi seorang murid di masa itu, saya punya tekat ketika menempu pendidikan guru yang di zaman itu bukanlah profesi yang di idam-idamkan oleh sebagian besar remaja di masa itu jika suatu saat menjadi seorang guru maka saya akan mengajar dengan cara-cara menyenangkan tidak seperti dulu saat saya menjadi seorang murid. Hal ini sejalan dengan filosofi dari KHD " ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani," 

Sebagai seorang pendidik filosofi itulah yang harus kita terapkan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas sebagai seorang pengajar kita harus mampu menjadi contoh yang baik bagi pesertadidik karena pembelajaran yang palin dasar dari anak-anak adalah dengan cara melihat lalu meniru hal inilah yang menuntut kita sebagai seorang pendidik agar selalu bisa memberikan contoh terbaik bagi pesertadidik kita sejalan dengan filosofi ing ngarso sung tulodo. Selain selalu memberikan tauladan yang baik seorang pendidik harus mampu memotivasi pesertadidik untuk mencapai cita-cita dan harapanya selaras dengan filosofi ing madya mangun karso, pendidik harus mampu memotivasi pesertadidik untuk selalu rajin dalam belajar agar tercapai tujuan pembelajaran serta memberikan pengalaman yang bermakna pada pesertadidik. Selanjutnya seorang pendidik harus mampu mendorong dan mengarahkan arah dan tujuan dari pesertadidik agar mampu mencapai mimpi dan cita-citanya hal ini selaras dengan prinsip merdeka belajar yang saat ini di canangkan oleh pemerintah

Sebagai seorang guru setidaknya saya sudah berusaha menerapkan merdeka belajar di setiap pembelajaran yang saya lakukan di kelas dengan membuat suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan walaupun masih banyak kekurangan di sana sini. Karena itu saya harus tetap belajar dan menimba pengetahuan agar mampu menerapkan pembelajaran yang menyenangkan dan mampu mewujudkan pelajar yang berkarakter sesuai dengan profil pelajar pancasila

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.i Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

 

by INDRO SULISTYO 

Dalam membuat jurnal dwi mingguan ini saya mengambil model Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini.

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak.

Materi modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangat di butuhkan bagi calon guru pengerak agar meriset/menata ulang pemahaman tentang ruang lingkup pendidikan. sebagai calon guru pengerak harus mampu meresapi serta mempraktikan filosofi pendidikan dari Kihajar Dewantara agar mamu merubah arah pendidikan kedepan agar lebih baik sesuai filosofi dari KHD.

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?

Ide, materi serta endapat dari narasumber sangat jauh berbeda dengan apa yang saya praktikan selama ini. Kegiatan pembelajaran yang selama ini saya praktikan masih 90% berpusat pada guru hal ini sangat kontras dengan ide, materi dari narasumber

3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

ada banyak sekalai konsep-konsep filosofi pendidikan dari KHD dari sekian banyak tadi saya dapat mengambil beberapa konsep yang penting untuk terus di bawa oleh seorang guru baik sebagai CGP atau nanti setelah menjadi GP:

a. Pendidikan adalah usaha menuntun (among) segala kekuatan kodrat anak (murid) agar mereka mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat

b. Pendidikan hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

c. Menuntun berarti membimbing, memberi contoh, mendorong, dan memfasilitasi murid dalam proses belajar sehingga segala kodratnya (budi pekerti) dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

d. Kodrat anak Merdeka, merdeka lahirnya dan merdeka batinnya. Kemerdekaan disini dimaknai sebagai kemandirian dan bukan kebebasan, dimana lahir dan batinnya (jiwa dan raganya) bersandar pada kekuatan sendiri tidak bergantung pada orang lain.

e. Kodrat anak, Bermain.  Konsep ini berdasarkan pada pemikiran Montessori bahwa bermain sudah menjadi kodrat anak. Pikiran-perasaan-kehendak yang bersatu melahirkan tenaga yang diwujudkan oleh anak dalam aktivitas bermain. Bermain dapat menjadi media belajar.

f. Pendidikan berpihak pada anak, yaitu pendidikan yang bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak bukan untuk meminta sesuatu tetapi untuk berhamba pada sang anak. Pendidikan harus memberikan perhatian dan pelayanan seutuhnya kepada anak sebagai peserta didik. Pendidikan harus memuliakan anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara wajar untuk mencapai tujuan universal yaitu selamat dan bahagia (wellbeing)

g. Teori Tabularasa, anak tidak lahir seperti kertas kosong, melainkan lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar- samar. Sehingga tujuan pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya.

h. Setiap anak telah memiliki bakat, kemampuan, gaya belajar, dan berbagai potensi yang unik, berbeda satu dengan lainnya sehingga guru melalui proses pendidikan tidak dapat mengubah keunikan itu. Tugas guru hanya perlu membantu masing-masing anak menebalkan bakat, potensi atau apapun yang baik yang dimiliki anak agar muncul dan teraktualisasi menjadi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat. Serta menyamarkan guratan yang tidak baik agar tidak tumbuh dan berkembang.

i. Memperbaiki laku anak perlu disesuaikan dengan konteks diri anak dan konteks sosio-kultural dimana anak-anak tumbuh dan berkembang

j. Agar sesuai dengan konteks diri anak maka seorang guru perlu memahami tumbuh kembang anak, diantaranya perkembangan intelektual, kebutuhan dasar manusia, dll

k. Guru laksana seorang petani yang mengelola lingkungan belajar agar sesuai dengan kebutuhan belajar murid sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai kekuatan kodratnya (budi pekerti). Disamping itu guru mengusahakan atau mengkondisikan agar tidak ada hama pengganggu yang dapat mengerdilkan tumbuh kembang anak secara wajar

4) Change: Apa perubahan dalam diri saya yang ingin saya lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Merubah pola pikir kalau guru bukanlah penguasa kelas, pembelajaran haruslah berpusat pada murid, hal yang paling sederhana saya lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran atau modul ajar yang kegiatan pembelajarannya terpusat pada anak, serta mengunakan berbagai macam metode mengajar. Saya juga akan terus mengikuti rangkaian kegiaatan CGP agar saya mendapat pemahaman yang lebih baik lagi dan akan segera dapat saya aplikasikan dalam pendidikan di sekolah kamai khususnya dan umumnya di dunia pendidikan

Thursday, 7 April 2022

MATERI PPKN KELAS X KURIKULUM MERDEKA BAGIAN 1 PANCASILA UNIT 1 Menggali Ide Pendiri Bangsa tentang Dasar Negara

Tujuan Pembelajaran pada Unit ini : 

Pada unit ini peserta didik diharapkan mampu membandingkan cara pandang para pendiri bangsa tentang rumusan dan isi Pancasila. Termasuk di dalamnya juga pandangan para pendiri bangsa tentang hubungan agama dan negara terkait frasa “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta.

IDE-IDE PENDIRI BANGSA TENTANG NEGARA MERDEKA

Sejarah mencatat perjuangan bangsa Indonesia untuk keluar dari penjajahan melewati fase panjang. Dalam catatan sejarah disebutkan setelah Jepang menyatakan perang dengan menyerbu pangkalan militer Ameriak Serikat di Pearl Harbour di kepulauan Hawai, Jepang selanjutnya melakukan invasi kewilayah Asia termasuk ke Indonesia yang saat itu dukuasi oleh Belanda. Setelah melalui serangkaian pertempuran akhirnya Belanda menyerah kepada jepang, kekalahan Belanda atas Jepang dalam perang Asia Timur Raya menyebabkan bangsa Indonesia terlepas dari penjajahan Belanda menuju ke penjajahan Jepang. Jepang dapat menguasai wilayah Indonesia setelah Belanda menyerah di Kalijati, Subang, Jawa Barat pada 8 Maret 1942. Jepang menggunakan sejumlah semboyan, seperti “Jepang Pelindung Asia”, “Jepang Cahaya Asia”, “Jepang Saudara Tua”, untuk menarik simpati bangsa Indonesia.

Namun, kemenangan Jepang ini tidak bertahan lama, karena pihak Sekutu (Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda) melakukan serangan balasan kepada Jepang untuk merebut kembali Indonesia. Sekutu berhasil menguasai sejumlah daerah. Mencermati situasi yang semakin terdesak tersebut, pada peringatan Pembangunan Djawa Baroe pada 1 Maret 1945, Jepang mengumumkan rencananya untuk membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPK).

Jepang pun mewujudkan janjinya dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPK) pada 29 April 1945 bersamaan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito, atas izinPanglima Letnan Jenderal Kumakichi Harada. Di dalam BPUPK, terdapat dua badan; 1) Badan Perundingan atau Badan Persidangan, 2) Kantor Tata Usaha atau sekretariat. Badan Perundingan diisi oleh seorang kaico (ketua), dua orang fukukaico (ketua muda atau wakil ketua) dan 62 orang iin atau anggota. Termasuk juga dalam BPUPK ini adalah 7 orang Jepang berstatus sebagai pengurus istimewa yang bertugas mengawasi.

BPUPK sendiri diketuai oleh KRT Radjiman Wedyodiningrat dengan Wakil Ketua Ichibangase Yosio dan Raden Pandji Soeroso. BPUPK ini melaksanakan 2 kali sidang; 1) 29 Mei-1 Juni 1945 membahas tentang Dasar Negara, 2) 10-17 Juli 1945 membahas tentang Rancangan Undang-Undang Dasar.

Berdasarkan sejumlah naskah, ada sejumlah tokoh yang turut menyampaikan pidato pada sidang pertama BPUPK, 29 Mei-1 Juni 1945. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pada sidang pertama BPUPK selama empat hari, terdapat 32 anggota BPUPK yang menyampaikan pidato, yaitu: 11 orang pada 29 Mei, 10 orang pada 30 Mei, 6 orang pada 31 Mei, serta 5 orang pada 1 Juni 1945.

Koleksi Pringgodigdo menyebutkan beberapa nama yang berpidato pada 29 Mei 1945, yaitu: Margono, Sosrodiningrat, Soemitro, Wiranatakoesoema, Woerjaningrat, Soerjo, Soesanto, Soedirman, Dasaad, Rooseno, dan Aris. Sementara itu, pada 30 Mei 1945, ada sembilan tokoh yang berpidato pada sidang BPUPK, yaitu: M. Hatta, H. Agoes Salim, Samsoedin, Wongsonagoro, Soerachman, Soewandi, A. Rachim, Soekiman, dan Soetardjo. Adapun pada sidang BPUPK tanggal 31 Mei 1945, ada empat belas tokoh yang menyampaikan pidato, yaitu: Soepomo, Abdul Kadir, Hendromartono, Mohammad Yamin, Sanoesi, Liem Koen Hian, Moenandar, Dahler, Soekarno, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Koesoema Atmaja, Oei Tjong Hauw, Parada Harahap, dan Boentaran. Sementara pada tanggal 1 Juni, anggota BPUPK yang menyampaikan pidato di antaranya Baswedan, Mudzakkir, Otto Iskandardinata, dan Soekarno.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga pokok bahasan dalam sidang BPUPK berkenaan dengan dasar negara, yaitu: 1), apakah Indonesia akan dijadikan sebagai negara kesatuan atau negara federal (bondstaat) atau negara perserikatan (statenbond), 2), masalah hubungan agama dan negara, dan 3), apakah negara akan menjadi republik atau kerajaan.

Selain mendiskusikanz secara lisan (pidato), para anggota BPUPK juga diminta memberikan usulan secara tertulis untuk kemudian diserahkan ke sekretariat atau Kantor Tata Usaha. Untuk menampung berbagai usulan pemikiran para pendiri bangsa, dibentuklah panitia kecil yang berjumlah delapan orang.

( bersumber dari : Buku Siswa X PPKn Kurikulum Sekolah Pengerak)

Untuk lebih mendalami materi silahkan membaca tentang pokok-pokok pikiran 3 tokoh yang sudah populer; Mohammad Yamin, Soepomo,dan Ir. Soekarno. Pokok pikiran yang akan dikaji ini untuk menjawab pertanyaan dari Radjiman Wedyodiningrat “negara Indonesia merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya?”