Saturday, 12 November 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.i Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

 

by INDRO SULISTYO 

Dalam membuat jurnal dwi mingguan ini saya mengambil model Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini.

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak.

Materi modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangat di butuhkan bagi calon guru pengerak agar meriset/menata ulang pemahaman tentang ruang lingkup pendidikan. sebagai calon guru pengerak harus mampu meresapi serta mempraktikan filosofi pendidikan dari Kihajar Dewantara agar mamu merubah arah pendidikan kedepan agar lebih baik sesuai filosofi dari KHD.

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?

Ide, materi serta endapat dari narasumber sangat jauh berbeda dengan apa yang saya praktikan selama ini. Kegiatan pembelajaran yang selama ini saya praktikan masih 90% berpusat pada guru hal ini sangat kontras dengan ide, materi dari narasumber

3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

ada banyak sekalai konsep-konsep filosofi pendidikan dari KHD dari sekian banyak tadi saya dapat mengambil beberapa konsep yang penting untuk terus di bawa oleh seorang guru baik sebagai CGP atau nanti setelah menjadi GP:

a. Pendidikan adalah usaha menuntun (among) segala kekuatan kodrat anak (murid) agar mereka mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat

b. Pendidikan hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

c. Menuntun berarti membimbing, memberi contoh, mendorong, dan memfasilitasi murid dalam proses belajar sehingga segala kodratnya (budi pekerti) dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

d. Kodrat anak Merdeka, merdeka lahirnya dan merdeka batinnya. Kemerdekaan disini dimaknai sebagai kemandirian dan bukan kebebasan, dimana lahir dan batinnya (jiwa dan raganya) bersandar pada kekuatan sendiri tidak bergantung pada orang lain.

e. Kodrat anak, Bermain.  Konsep ini berdasarkan pada pemikiran Montessori bahwa bermain sudah menjadi kodrat anak. Pikiran-perasaan-kehendak yang bersatu melahirkan tenaga yang diwujudkan oleh anak dalam aktivitas bermain. Bermain dapat menjadi media belajar.

f. Pendidikan berpihak pada anak, yaitu pendidikan yang bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak bukan untuk meminta sesuatu tetapi untuk berhamba pada sang anak. Pendidikan harus memberikan perhatian dan pelayanan seutuhnya kepada anak sebagai peserta didik. Pendidikan harus memuliakan anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara wajar untuk mencapai tujuan universal yaitu selamat dan bahagia (wellbeing)

g. Teori Tabularasa, anak tidak lahir seperti kertas kosong, melainkan lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar- samar. Sehingga tujuan pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya.

h. Setiap anak telah memiliki bakat, kemampuan, gaya belajar, dan berbagai potensi yang unik, berbeda satu dengan lainnya sehingga guru melalui proses pendidikan tidak dapat mengubah keunikan itu. Tugas guru hanya perlu membantu masing-masing anak menebalkan bakat, potensi atau apapun yang baik yang dimiliki anak agar muncul dan teraktualisasi menjadi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat. Serta menyamarkan guratan yang tidak baik agar tidak tumbuh dan berkembang.

i. Memperbaiki laku anak perlu disesuaikan dengan konteks diri anak dan konteks sosio-kultural dimana anak-anak tumbuh dan berkembang

j. Agar sesuai dengan konteks diri anak maka seorang guru perlu memahami tumbuh kembang anak, diantaranya perkembangan intelektual, kebutuhan dasar manusia, dll

k. Guru laksana seorang petani yang mengelola lingkungan belajar agar sesuai dengan kebutuhan belajar murid sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai kekuatan kodratnya (budi pekerti). Disamping itu guru mengusahakan atau mengkondisikan agar tidak ada hama pengganggu yang dapat mengerdilkan tumbuh kembang anak secara wajar

4) Change: Apa perubahan dalam diri saya yang ingin saya lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Merubah pola pikir kalau guru bukanlah penguasa kelas, pembelajaran haruslah berpusat pada murid, hal yang paling sederhana saya lakukan adalah menyusun perangkat pembelajaran atau modul ajar yang kegiatan pembelajarannya terpusat pada anak, serta mengunakan berbagai macam metode mengajar. Saya juga akan terus mengikuti rangkaian kegiaatan CGP agar saya mendapat pemahaman yang lebih baik lagi dan akan segera dapat saya aplikasikan dalam pendidikan di sekolah kamai khususnya dan umumnya di dunia pendidikan

No comments:

Post a Comment

mohon mengunakan bahasa yang sopan